Belajar Bareng ALPHAMOR Class

Memahami bagaimana anak usia dini berkomunikasi akan menjadi berguna untuk orang dewasa dalam membangun dan menjalin komunikasi yang efektif dengan mereka

Sumber : Dokumentasi ALPHAMOR

Alphamor baru saja selesai menyelenggarakan Alphamor Class perdana. Tema Alphamor Class pertama ini adalah Serba-Serbi Perkembangan Anak. Terdapat tiga sesi pematerian dan diskusi yang diikuti oleh 37 peserta. Seri kelas ini diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut dari tanggal 23-25 September 2020 secara daring. Alphamor Class mengundang tiga pemateri yang juga praktisi dan ahli di bidangnya masing-masing.

Yuk, simak apa saja yang dipelajari oleh peserta selama tiga hari di Alphamor Class!

Sesi #1 Apakah Perkembangan Anakku Sudah Sesuai?

Pada hari pertama adalah sesi pematerian yang diisi oleh dr. Davrina Rianda, M.Gizi. Topik yang diangkat adalah “Apakah Perkembangan Anakku Sudah Sesuai?”. Diskusi dibuka dengan dr. Davrina membedah konsep tumbuh kembang anak. Pertumbuhan adalah sesuatu yang berkaitan dengan aspek biologis anak, seperti tinggi badan, lingkar kepala, dan berat badan. Sedangkan perkembangan adalah aspek-aspek yang menyangkut kemampuan anak seperti motorik, bahasa, komunikasi, hingga sosial dan emosi.

Sumber : Dokumentasi ALPHAMOR

Agar tumbuh kembang anak menjadi optimal diperlukan nutrisi dan stimulasi yang menunjang kedua aspek ini­–pertumbuhan dan perkembangan. Genetik, lingkungan, dan nutrisi adalah tiga faktor utama yang berperan dalam tumbuh kembang anak. Pada masa golden age ini, lingkungan anak memegang pengaruh yang sangat penting dalam memastikan apakah anak melewati masa ini dengan optimal atau tidak. Yang termasuk ke dalam faktor lingungan adalah pola pengasuhan orang tua, stimulasi yang diberikan, psikologis, kesehatan, dan pemberian imunisasi. Mengingat pentingnya faktor lingkungan terhadap tumbuh kembang anak, pemberian nutrisi yang baik saja tentu belum cukup tanpa diimbangi dengan pemberian stimulasi dan pola asuh yang sesuai. Untuk mendapatkan efek yang paling baik, orang tua perlu memastikan bahwa anak telah mendapatkan gizi yang baik dan stimulasi yang baik pula.

Sesi #2 Anakku Clumsy, Apakah Karena Tidak Merangkak?

Di hari kedua Alphamor Class, Alphamor mengundang Dr. dr. Riksma Akhlan, M.Pd. untuk membawakan materi “Anakku Clumsy: Apakah Karena Tidak Merangkak?”. Clumsy dapat didefinisikan kaku, ceroboh, atau kikuk. Pada keseharian, perilaku-perilaku anak yang menunjukkan clumsiness ini dapat terlihat dari seringnya anak tersandung atau terbentur sesuatu, anak sering menjatuhkan barang, sering menabrak benda yang ada di hadapannya, hingga kesulitan membawa air di dalam gelas tanpa tumpah.

Sumber : Dokumentasi ALPHAMOR

Lalu apa hubungannya perilaku clumsy tersebut dengan anak yang tidak melalui fase merangkak? Fase merangkak pada perkembangan motorik bayi rupanya tidak hanya berhubungan dengan persiapan anak bisa berdiri lalu berjalan sendiri. Merangkak ternyata memiliki manfaat lain yang sangat penting untuk menunjang perkembangan anak pada tahapan berikutnya. Pada saat bayi merangkak, sistem keseimbangan (vestibular), sensori, kognisi, problem solving, dan koordinasi juga ikut terlibat, tidak hanya sistem motorik kasar.

Walaupun masih menjadi perdebatan tentang hubungan merangkak dan clumsiness pada anak, Dr. Riksma membagikan contoh-contoh kasus yang tampak ketika anak mulai memasuki usia sekolah. Masalah-masalah seperti anak tidak bisa memegang pensil/alat tulis dengan baik hingga kekuatan bahu, siku, dan otot tangan yang belum siap untuk Gerakan menulis. Saat dilakukan pemeriksaan secara retrospektif, kasus-kasus tersebut memiliki kesamaan, yaitu terlewatnya fase merangkak pada anak.

Meskipun demikian, orang tua juga tidak perlu khawatir berlebihan apabila anak mereka melewati fase ini. Orang tua dapat memberikan stimulasi-stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak. Melakukan deteksi sedini menjadi sangat penting untuk mengetahui stimulasi apa yang diperlukan oleh anak untuk menunjang tumbuh kembangnya secara optimal.

Sesi #3 Anakku Belum Mandiri, Bagaimana Solusinya?

Di hari terakhir, Alphamor Class menghadirkan Winny Suryania, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis anak dan konselor di Sekolah Cikal. Perempuan yang akrab disapa Ms Winny ini menyampaikan materi yang berkaitan dengan perkembangan kemandirian pada anak. Beliau juga berbagi strategi-strategi praktik yang dapat diterapkan oleh orang tua saat mengajarkan kemandirian pada anak mereka.

Sumber : Dokumentasi ALPHAMOR

Kemandirian menjadi sangat penting bagi anak untuk menolong dirinya sendiri. Ada empat hal yang mendasari mengapa anak butuh untuk menjadi mandiri:

1) Menumbuhkan rasa percaya diri

2) Memotivasi anak dalam eksplorasi hal baru

3) Melatih keterampilan “problem solving

4) Menumbuhkan rasa tanggung jawab

Orang tua mulai dapat mengamati kemandirian pada diri anak saat anak mulai menginjak usia satu hingga tiga tahun. Kemandirian pada usia ini muncul melalui tindakan atau perilaku seperti anak mulai ingin minum sendiri dari gelas, memegang makanannya sendiri, bersedia untuk ikut merapikan mainannya, hingga mulai tidak menangis saat ditinggal oleh ibunya.

Untuk membentuk kemandirian pada diri anak ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua. Orang tua dapat memberikan contoh dan struktur yang dapat ditiru oleh anak. Anak usia dini adalah peniru ulung, sehingga dengan memberikan contoh-contoh perilaku baik dari orang tua adalah sarana bagi anak untuk belajar melakukannya sendiri. Orang tua juga perlu memberikan kesempatan sesuai dengan kecepatan belajar anak, tanpa interupsi dan tanpa intervensi. Setiap anak mempunyai kecepatan belajar yang beragam, sebagai orang dewasa orang tua juga perlu belajar sabar dan menghargai setiap proses yang dilalui oleh anak untuk mencapai kemandirian yang diharapkan. Strategi berikutnya adalah dengan menjelaskan konsep dan konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan. Orang tua juga perlu untuk memperhatikan bahwa ketiga strategi ini perlu dilakukan dengan penuh kasih sayang dan tetap mengedepankan komunikasi yang positif.

Kemandirian pada anak adalah proses bukan perlombaan.” Sehingga membandingkan kemandirian antara satu anak dengan anaknya bisa menjadi tidak relevan terhadap. Orang tua perlu mengevaluasi ekspektasi yang mereka miliki dengan kondisi riil perkembangan anak.

Testimoni

Seri perdana Alphamor Class mendapatkan kesan yang baik dari banyak peserta. Pematerian yang disesuaikan dengan tema-tema yang dekat dengan problematika pengasuhan dan tumbuh kembang anak membuat proses belajar peserta menjadi relevan dengan situasi yang ditemukan sehari-hari. Para peserta juga menilai bahwa proses penyampaian materi dan diskusi Alphamor Class menyenangkan dan membuka wawasan lebih luas tentang bagaimana mendampingi perkembangan anak.

Penulis : Tim ALPHAMOR

Penyunting : Novia Anggraeni (Tim ALPHAMOR)

Leave a Reply