Tips Menjaga Kesehatan Mental Anak dan Orang Tua Selama PJJ

Orang tua yang kelelahan, ditambah anak yang kebingungan merupakan kombinasi situasi yang tidak ideal untuk anak agar dapat belajar secara optimal. Lalu apa yang bisa dilakukan orang tua untuk mengatasi masalah ini?

Sumber : Julia M Cameron/pexels

Tidak terasa pembelajaran jarak jauh atau yang familiar disebut PJJ telah berlangsung selama tujuh bulan lamanya. Proses PJJ yang panjang dan terus menerus setiap hari tidak jarang membuat anak dan orang tua menjadi stress. Anak-anak dan orang tua dibuat jenuh menunggu kepastian sampai kapan PJJ akan berlangsung.

Bagaimanapun pendampingan yang diberikan oleh orang tua dan akomodasi lingkungan rumah untuk menunjang belajar anak, tentu akan sulit untuk menggantikan 100% peran guru dan sekolah.  Ada kalanya orang tua tidak siap atau merasa tidak sanggup untuk selalu mendampingi proses belajar anak. Anak pun mudah frustasi dan kesal apabila ia menghadapi kesulitan saat belajar dan kebingungan bagaimana meminta bantuan dari orang dewasa. Belum lagi selama pandemi ini, banyak anak kehilangan momen-momen penting untuk mengasah kemampuan interaksi sosial langsung dengan teman-temannya. Orang tua yang kelelahan, ditambah anak yang kebingungan merupakan kombinasi situasi yang tidak ideal untuk anak agar dapat belajar secara optimal. Lalu apa yang bisa dilakukan orang tua untuk mengatasi masalah ini?

Berikut ini aktivitas-aktivitas alternatif untuk membantu orang tua mendampingi anak selama PJJ yang telah dirangkum oleh Tim Alphamor. Yuk, simak!

1.   Membuat jadwal belajar dan bermain

Membuat jadwal belajar yang terstruktur memudahkan orang tua agar dapat membantu dan mendukung proses belajar PJJ anak. Sistem PJJ yang bervariasi memungkinkan bagi anak dan orang tua untuk Menyusun jadwal Bersama. Apalagi jika sistem PJJ yang dilaksanakan adalah sistem asynchronous atau pembelajaran tidak dilaksanakan secara real-time.

Saat menyusun jadwal belajar, memperhatikan kapan waktu optimal yang dapat orang tua alokasikan di antara waktu kerja mereka termasuk hal yang krusial. Apabila orang tua mendampingi anak dalam keadaan stress, anak pun bisa terbawa stress saat belajar. Sehingga pembelajaran yang ia alami jauh dari efektif.

Hal penting lain yang sering luput adalah mengalokasikan waktu anak untuk bermain atau melakukan hal lain yang menjadi kesenangannya. Bermain bukanlah hal yang membuang-buang waktu jika dilakukan dengan penjadwalan yang baik. Banyak sekali manfaat bermain untuk kesehatan mental anak. Bermain menjadi sarana bagi anak untuk melepas penat dan stress yang mungkin ia alami Ketika belajar dan menatap layer gawai terus menerus. Orang tua dapat membuat kesepakatan dengan anak terkait dengan kapan anak boleh bermain dan melakukan hal yang menyenangkan baginya.

2.   Berolahraga bersama

Berolahraga bersama anak tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan anak, bagi orang tua juga bermanfaat untuk melekatkan hubungan. Di saat pandemi seperti saat ini, orang tua dan anak dapat memilih jenis olahraga yang aman untuk dilakukan. Olahraga di dalam ruangan seperti senam, yoga, dapat dijadwalkan kapan saja. Namun, orang tua dan anak juga tetap masih bisa melakukan olahraga di luar ruangan seperti jogging di sekitar rumah hingga bersepeda bersama. Kegiatan olahraga bersama ini bisa menjadi rutinitas anggota keluarga.  Yang paling tidak kalah penting, orang tua meluangkan waktu setiap akhir pekan atau berdasarkan kesepakatan bersama untuk berolahraga dengan anak.  

3.   Berjemur

PJJ yang dilakukan dari pagi sampai siang hari seringkali mengharuskan anak untuk tenang belajar di dalam rumah sampai jam sekolah selesai. Kondisi berada di ruangan terus menerus mengurangi kesempatan anak untuk mendapatkan paparan sinar matahari secara langsung. Padahal sinar matahari pagi sangatlah baik untuk proses pembentukan vitamin D pada tubuh anak. Terlalu lama dalam ruangan dan kurang mendapatkan sinar matahari dapat mengakibatkan anak mengalami kekurangan vitamin D.

Manfaat lain dari berjemur adalah meningkatkan kemampuan otak dalam mengeluarkan hormone serotonin. Hormon serotonin dikenal juga sebagai hormon yang dapat membuat tenang, fokus, hingga meningkatkan mood-mood baik.

4.   Mengobrol santai

Meluangkan waktu untuk mengobrol dengan anak bisa menjadi solusi untuk melepas stress setelah belajar daring. Pilih topik-topik yang tidak berkaitan langsung dengan pembelajaran anak di sekolah. Berikan mereka waktu dan kesempatan untuk bercerita mengenai apa yang sedang mereka gemari. Jika mereka memilih untuk membicarakan tentang sekolah mereka, orang tua dapat mendengarkan cerita anak dengan aktif.

Bagi sebagian anak, proses belajar jarak jauh ini adalah hal yang memicu stress pada diri mereka. Meskipun anak tidak secara langsung memberitahu kepada orang tua, namun orang tua dapat menangkap sinyal-sinyal berupa perilaku anak atau ekspresi wajah anak. Memulai percakapan dengan anak tentang PJJ dan progress belajar mereka tanpa memperhatikan situasi emosi anak bisa menjadi boomerang bagi orang tua karena anak akan menjawab dengan malas-malasan atau sebaliknya dengan emosi kesal yang meluap-luap.

Penulis : Tim ALPHAMOR

Penyunting : Novia Anggraeni (Tim ALPHAMOR)

Related Posts

Leave a Reply