Membangun Komunikasi Efektif- Pahami Tahap Perkembangan Komunikasi pada Anak Usia 0-6 Tahun

Memahami bagaimana anak usia dini berkomunikasi akan menjadi berguna untuk orang dewasa dalam membangun dan menjalin komunikasi yang efektif dengan mereka

Sumber : Pexels/Gustavo Fringom

Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain dan adanya hubungan timbal balik. Dalam ilmu komunikasi seseorang pembawa pesan disebut Komunikator dan orang yang menerima pesan disebut Komunikan. Tujuan dari kegiatan komunikasi itu sendiri adalah untuk mempermudah kita menjalani aspek kehidupan. Dengan cara komunikasi yang efektif, pesan atau keinginan dari komunikator dapat mudah dipahami oleh komunikan, begitu pula sebaliknya. Proses komunikasi juga berhubungan dengan kemampuan kognitif dan kemampuan Bahasa, selain itu faktor lainnya adalah kemampuan social dan emosi.  Komunikasi dapat berupa Bahasa verbal, isyarat, dan gestur. 

Komunikasi pada orang dewasa, tentu berbeda dengan anak usia dini. Proses komunikasi pada anak usia dini harus selalu dalam pendampingan orang dewasa. Pada dasarnya komunikasi anak usia 1-5 tahun masih dipengaruhi oleh proses meniru di lingkungan sekitar atau kita kenal dengan tahap imitasi. Pada perkembangan usia dini dikenal dengan masa Golden Age di mana setiap anak memiliki periode untuk perkembangan yang pesat. Salah satunya dipengaruhi oleh imitasi terhadap lingkungan, anak usia dini juga dikenal dengan istilah “peniru ulung”, pada tahap ini anak akan mudah menirukan stimulus yang diberikan lingkungannya baik secara sengaja maupun tidak disengaja. 

Anak usia dini menjadi komunikator ketika ia bertanya pada orang tua atau orang lain disekitarnya. Isi pesan yang disampaikan anak didominasi dari pikirannya, jika kita melihat pada tahap perkembangan kognitif menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif anak usia 0-6 tahun adalah sebagai berikut:

  1. Tahap Sensorimotor (0 – 18 bulan)

Segala yang dipelajari anak dibawah usia dua tahun dipengaruhi oleh aktivitas sensori atau dipengaruhi alat indera yang sedang berkembang melalui aktivitas motorik. Kita tahu bahwa anak usia dibawah 2 tahun senang menggenggam, meraba, dan penasaran dengan hal-hal baru, apa yang menarik perhatian mereka akan menimbulkan celoteh sebagai sarana mengisyaratkan komunikasi kepada orang lain bahwa mereka menginginkan hal yang menarik perhatian tersebut. Menangis merupakan tahapan komunikasi yang pertama dilalui oleh seorang anak. Dengan menangis orang disekitar akan tahu keberadaan anak dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan anak tersebut. 

  1. Tahap pra-operasional (18 bulan – 6 tahun)

Pada tahap ini anak sudah memahami realita di lingkungan dengan menggunakan simbol-simbol. Seperti ketika melihat buah jeruk anak sudah memahami bahwa bentuknya bulat berwarna khas oranye atau hijau dengan tekstur khas kulit jeruk. Pada tahap ini juga dikenal dengan fase egosentris, di mana anak melihat dunia di lingkungannya menurut kehendak dirinya. 

Selain pengaruh perkembangan kognitif, kemampuan komunikasi pada anak usia dini juga dipengaruhi oleh kemampuan Bahasa. Pada usia 2 tahun, anak-anak memproduksi rata-rata 338 ucapan yang dapat dimengerti dalam setiap jam, dengan rentang 42-672 ucapan. 

Usia 0-1 tahun dikenal dengan tahap Awal Bahasa, ditandai dengan menangis dan ocehan ketika bayi. Ocehan pada bayi dapat disebut sebagai awal komunikasi dengan orang tua. Pada tahap ini juga ditandai dengan bayi yang akan tersenyum saat ada orang yang dikenal maupun tidak dikenalnya, sebagai salah satu cara berkomunikasi pada orang tersebut. 

Tahap Bahasa Dini Usia 1-2 Tahun, ditandai dengan kemampuan anak dalam menggunakan satu atau dua kata dalam berkomunikasi. Tahap Bahasa Usia 2-5 tahun, ditandai dengan kemampuan anak dalam menggunakan Bahasa yang lengkap, beragam, dengan jumlah kosa kata yang sudah berkembang pesat. Dimulai dari menggunakan 2-3 kata tersusun hingga membentuk kalimat utuh. 

Selain itu, berikut ini kami rangkum tips dalam membangun komunikasi efektif dengan anak usia 0-6 tahun :

  1. Pahami tahapan perkembangan anak. Dengan memahami perkembangan anak parents jadi tahu mana yang anak yang sudah dikuasai ataupun belum dikuasai. Karena pada dasarnya perkembangan komunikasi pada anak dipengaruhi paling sedikit oleh kemampuan kognitif dan bahasanya.
  2. Gunakan Bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak. Menggunakan Bahasa yang terkesan abstrak dapat membuat anak menjadi kebingungan, ubahlah kata-kata menjadi lebih konkrit atau ringkas dan jelas, seperti : 

“Jangan simpan disitu!”

menjadi

“Simpan mainan di kotaknya!”

  1. Perhatikan intonasi saat berkomunikasi dengan anak. Ketika parents menggunakan intonasi yang tinggi anak tidak mau mendengarkan, namun dengan intonasi yang tepat dan kata-kata yang jelas anak akan menjadi mudah menangkap, selain itu terkadang permainan intonasi yang menyenangkan akan lebih disukai anak, seperti contoh saat anak menyimak dongeng anak akan lebih fokus. 
  2. Mengganti larangan dengan pilihan. Terkadang sebagai orang tua kita ingin cara cepat terutama dalam memberikan larangan kepada anak. Namun tahukah, parents, jika anak akan cenderung melakukan hal sebaliknya dari yang kita harapkan? Sehingga menggunakan kalimat positif dan memberikan pilihan akan menjadi alternatif bagi orang tua dalam berkomunikasi dengan anak. 

Lebih banyak mendengarkan. Banyak orang tua yang ingin anaknya cepat mengikuti instruksi ataupun larangan yang diberikan, namun perlu menjadi perhatian parents jika anak juga memiliki isi hati dan pemikirannya sendiri. Jadi, sudahkah hari ini kita memberikan kesempatan si kecil untuk bercerita ?

Penulis : Shinta Malida Balqis, S.Pd (Kontributor ALPHAMOR)

Penyunting : Novia Anggraeni (Tim ALPHAMOR)

Bacaan Lebih Lanjut :

Diane, E. Papalia, et all, Psikologi Perkembangan, Cet I, Jakarta : Kencana, 2008, Hal. 212.

Mohd. Surya, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Cet II, Bandung : Yayasan Bhakti Winaya, 2003. Hal. 56.Tim Bunda Sayang Batch 6. Komunikasi Produktif. Institut Ibu Profesional, 2020.

Profil penulis: 
Shinta Malida Balqis adalah seorang Ibu dengan satu anak yang saat ini menjadi mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Khusus, aktif dalam komunitas parenting dan ibu pembelajar.

Related Posts

Leave a Reply