5 Jenis Kecerdasan Anak yang Wajib Diketahui

Lima jenis kecerdasan ini merupakan manifestasi bahwa kecerdasan pada diri anak tidak tunggal

Sumber : Max Fischer/Pexels

Seberapa cerdaskah anak anda di rumah maupun di sekolah ? Jika pertanyaan ini saya lontarkan kepada orang tua pasti mereka mempunyai banyak tanggapan yang berbeda mengenai anaknya. Banyak orang tua beranggapan bahwa anak mereka jago dalam perhitungan dan jago bahasa asing, namun bagi orang tua yang anaknya kurang mampu dalam pelajaran eksakta  menganggap anaknya biasa-biasa saja hingga orang tua pun merasa minder dengan kondisi anaknya. Jika pertanyaan ini diberikan kepada guru di sekolah, maka guru tersebut akan merincikan satu persatu kecerdasan anak tersebut. Walaupun anak tersebut bisa jadi lambat dalam pelajaran IPA, namun ia sangat mahir melukis dan bermain musik. Lukisannya sudah beberapa kali diikutsertakan pada sebuah pameran seni yang dihadiri oleh para seniman hebat. Atau karya musiknya sudah beberapa kali tampil dipentaskan. 

Oleh karena itu, artikel ini akan menjelaskan beragam kecerdasan yang ada pada anak yang jarang diketahui oleh orang tua dan juga guru. Kecerdasan ini bisa dilihat dari aktivitasnya sehari-hari baik di rumah maupun di sekolah. Kecerdasan apa saja sih yang ada pada anak? Mari simak!

1.   Kecerdasan Naturalis

Suatu hari saya mengamati seorang siswa kelas IV tempat saya mengajar, setiap pagi dan siang hari ia sibuk mencongkel-congkel pasir di depan kelasnya. Hampir setiap hari ia melakukan hal tersebut. Saya sempat menegurnya agar ia jangan bermain-main pasir takut bajunya kotor. Perbuatan itu ia lakukan lagi keesokan harinya. Dengan penasaran saya menghampirinya. Ternyata siswa tersebut sedang mengumpulkan serangga. Saya tanyakan padanya, “Untuk apa kamu mengumpulkan serangga itu?” Ia menjelaskan, bahwa ia baru saja menyelesaikan membaca sebuah buku tentang kehidupan serangga salah satunya serangga undur-undur yang hidup di dalam pasir. Ia ingin mengamati apakah benar bahwa serangga ini berjalan mundur. Pada saat itulah saya tersadar ternyata ia sedang mengamati sesuatu, ia telah melakukan pembelajaran secara mandiri. Setelah itu ia memanggil semua temannya dan ia jelaskan tentang serangga kecil itu. 

Yang dilakukan oleh siswa tersebut adalah contoh dari kecerdasan naturalis. Apa itu kecerdasan Naturalis? Menurut Howard Gardner, sang naturalis adalah seorang yang menunjukkan “kemahiran dalam mengenali dan mengklarifikasi banyak spesies flora dan fauna dalam lingkungannya.” Anak yang mempunyai kecerdasan naturalis orang yang bertangan “dingin”. Pandai berkebun merawat tanaman dengan baik begitu pula dengan yang peduli hewan  mampu menjinakkan hewan liar, serta menyukai binatang peliharaan. Bagi orang yang mempunyai kecerdasan naturalis, mereka memiliki potensi untuk menjadi dokter hewan atau aktivis peduli lingkungan. 

Kecerdasan naturalis dapat dilatih dengan melakukan perjalanan wisata alam, mengunjungi taman, kebun binatang terdekat, dan tempat lainnya yang berhubungan dengan flora dan fauna. Anak dengan kecerdasan naturalis ini biasanya senang sekali berpetualang mengeksplorasi lingkungannya. Oleh karena itu, perlunya pendampingan serius bagi orang tua dan guru dengan tidak melarangnya tapi bantu mereka untuk mengenal flora dan fauna di lingkungannya.

2.   Kecerdasan Linguistik

Anak dengan kecerdasan linguistik,  sering memanfaatkan jam istirahatnya berkunjung ke perpustakaan sekolah. Membaca dan meminjam beberapa buku cerita untuk ia baca di rumah karena singkatnya waktu untuk membaca di perpustakaan sekolah. Ia begitu hafal letak petunjuk buku yang akan ia ambil tanpa bertanya dahulu pada petugas perpustakaan. Tulisannya rapi dan ia habiskan waktu luangnya membaca dan menulis. Begitu banyak referensi yang ia sebutkan jika  berpendapat di dalam kelas mampu menjelaskan setiap bacaan yang ia baca. Ia bisa jadi lemah dalam berhitung, namun ia unggul pada mata pelajaran bahasa dan sejarah. Ia memiliki hobi membaca, menulis dan bercerita. 

Jika di rumah, anak tersebut suka bercerita apa yang ia alami di sekolah kepada kedua orang tuanya. Suka mengumpulkan resep masakan, suka bercerita dengan adik-adiknya. Ia juga memiliki banyak koleksi buku bacaan di rumahnya.  Apakah parents pernah melihat kelakuan ini seperti ini pada anak-anaknya di rumah?

Ini merupakan sebuah kecerdasan linguistik kemampuan seseorang atau individu dalam mengolah serta menggunakan kata dengan sangat baik. Kecerdasan ini melingkupi penguasaan kata yang matang. Suara dan ritme yang sangat jelas dan tenang serta intonasi yang diucapkan sangatlah baik.  Thomas Armstrong membagi ciri-ciri kecerdasan linguistik pada seorang anak:

–    Buku sangat penting baginya

–    Mudah mengingat dan menghafal

–    Mudah mengingat kata-kata dari radio atau kaset daripada televisi

–    Suka dengan permainan kata

–    Mampu menjelaskan makna kata yang yang ia gunakan dalam tulisan,

–    Pelajaran bahasa, sosial dan sejarah lebih disenangi

–    Sering mengungkapkan segala sesuatu yang pernah dibaca dan didengar. 

Anak dengan kecerdasan lingustik ini dapat menjadi seorang penulis hebat, penyiar radio/televisi dan  penceramah.

3.   Kecerdasan Logis-Matematis

Pelajaran berhitung adalah pelajaran favoritnya. Hanya cukup sekali guru menjelaskan di depan dengan cepat ia langsung memahaminya. Sesulit apapun soal yang diberikan dengan mudah ia selesaikan, kadang ia juga menggunakan caranya sendiri cara menyelesaikan soal hitungan. Ia sangat detail dalam mengerjakan sebuah soal matematika, fisika, kimia dan ilmu sains lainnya. Ia berpikir logis dan sangat detail mengerjakan sebuah tugas yang diselesaikan dengan tepat waktu. Kecerdasan seperti ini disebut dengan kecerdasan logis-matematis.

Menurut Bobbi DePorter, kecerdasan logika matematika (logis-matematis) merupakan kecerdasan yang mencakup kemampuan menghitung, bereksperimen mengungkap fakta dan kemampuan memecahkan masalah matematikanya. Berikut ciri-ciri kecerdasan logis-matematis yang dapat diamati dari perilaku anak:

–    Mudah memecahkan persoalan yang berhubungan dengan angka-angka

–    Matematika dan sains adalah pelajaran favoritnya

–    Mampu memecahkan soal yang menuntut pemikiran logis

–    Suka mengadakan percoban kecil

–    Suka perkembangan baru dalam sains

–    Penjelasannya yang masuk akal,

–    Berpikir dalam konsep yang jelas, abstrak, tanpa kata, tanpa gambar

–    Sering menemukan salah penalaran yang dilakukan orang di rumah maupun tempat kerja

–    Merasa lebih nyaman segala sesuatu sudah diukur, dikelompokkan, dianalisis, atau dikuantifikasikan dengan cara tertentu

Kecerdasan logis-matematis seperti ini sering dimiliki para intelijen.

4.   Kecerdasan Spasial

Pada saat jam istirahat di dalam kelas ia sibuk dengan buku kosong yang ia gunakan untuk menggambar animasi atau kartun. Beraneka ragam kartun ia lukis di atas kertas. Ia juga sudah menyiapkan satu komik di buku tulisnya yang ia lukis dengan tangannya sendiri hanya menggunakan pensil 2B. Gambar yang ia gambar begitu nyata sesuai dengan film animasi yang ia tonton setiap hari minggu di rumah. Imajinasinya begitu baik ia bisa membayangkan dengan detail gambar yang akan ia lukis. Kegiatan lukis melukis sangat ia gemari, pelajaran seni sangat ia cintai.

Keahlian  anak melukis dari cerita di atas  merupakan salah satu contoh kecerdasan spasial. Apa itu kecerdasan spasial? Menurut Howard Gardner, kecerdasan spasial adalah kecerdasan dalam bentuk kemampuan untuk merasakan dunia visual-spasial secara akurat serta kemampuan untuk melakukan transformasi pada persepsi awal seseorang. Inilah kecerdasan yang dimiliki oleh arsitek, penemu, montir, insinyur, dan surveyor tanah.

Dari penjelasan di atas orang yang memiliki kecerdasan spasial ini mereka yang lebih  mampu mengingat ketajaman visual dan melampiaskan dalam karyanya dengan melukis, fotografer, memahat, dan mampu mengingat komponen-komponen kecil pada sebuah mesin seperti yang dikuasai oleh para montir. Bahkan orang dengan hambatan penglihatan pun dapat memiliki kecerdasan ini. Mereka mampu memahami lintasan, suara dan mampu membaca peta dengan ketajaman spasial yang tinggi.

Bagaimana dengan anak parents di rumah, apakah sudah mengenal anak dengan kecerdasan ini? Jika anak di rumah yang masih kecil sering mencoret tembok rumah, janganlah dimarahi. Fasilitasi lah mereka dengan alat lukis tempat mereka melampiaskan kecerdasan spasialnya yang mulai muncul masa kanak-kanaknya.

5.   Kecerdasan Interpersonal

Ia sangat peduli terhadap temannya yang terkena musibah, mudah sedih melihat kesedihan yang ia lihat dan senang. Kehadirannya sangat dibutuhkan oleh teman-temanya, bisa dikatakan ia sebagai pahlawan penyelamat. Ucapannya sangat dipercayai oleh guru dan teman-temannya karena kejujuran. Ia mampu memotivasi orang lain. Ia memiliki jiwa empati serta kepekaan sosial yang tinggi  dengan mampu merasakan apa yang orang lain rasakan.

Ini merupakan contoh perilaku yang ditunjukkan oleh anak dengan kecerdasan interpersonal. Kecerdasan interpersonal merupakan kemampuan dalam memahami serta memperkirakan perasaan, suasana hati, serta keinginan orang lain, dan dapat meresponnya dengan layak. Anak ini memiliki jiwa pemimpin yang mampu menjalin hubungan dengan orang lain. Jika di rumah anak ini sangat mandiri, ringan tangan membantu kedua orang tuanya, dan mengajarkan adik-adiknya belajar. Ia senang mengajak teman ke rumah untuk mengerjakan tugas kelompok sekolah. Anak dengan kecerdasan interpersonal ini senang sekali bergaul.

Begitu beruntungnya parents jika ada anaknya memiliki kecerdasan interpersonal ini. Parents bisa melatih anak dengan kecerdasan interpersonal dengan mengajarkannya untuk bersedekah, mengunjungi tempat pengungsian bencana alam, yayasan panti asuhan, atau ke rumah tetangga dan banyak lainya yang bisa ayah bunda latih untuk melahirkan kecerdasan antarpribadi ini. Mereka yang memiliki kecerdasan ini memiliki potensi untuk menjadi seorang psikologi dan dokter jiwa. 

Semua anak mempunyai kelima kecerdasan ini, namun tidak semua kecerdasan ini dominan muncul pada anak. Kepekaan untuk mendeteksi jenis kecerdasan ini penting dimiliki oleh orang tua dan guru. Jika sudah terdeteksi dengan baik, orang tua dan guru dapat lebih mudah untuk mengarahkan anak sesuai dengan kecerdasannya bukan dengan kemauan orang dewasa di sekitar anak.

Penulis : Gunawan (Kontributor ALPHAMOR)

Penyunting : Novia Anggraeni (Tim ALPHAMOR)

Bacaan lebih lanjut:

Thomas Armstrong, Ph.d. (2002). Kind Of Smart. Menemukan dan meningkatkan kecerdasan berdasarkan teori Multiple Intelligence.

Profil Penulis
Gunawan adalah seorang pengajar di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe (Aceh)

Related Posts

Leave a Reply